David De Gea Terpilih Jadi Pemain Terbaik Manchester United 2014-15

David De Gea Terpilih Jadi Pemain Terbaik Manchester United 2014-15

Kerap menjadi penyelamat dalam sejumlah laga krusial Manchester United di sepanjang kampanye musim 2014/15, De Gea terpilih menjadi pemain terbaik raksasa Liga Primer Inggris tersebut untuk periode musim 2014/15.

David De Gea Quintana, penjaga gawang 23 tahun asal Spanyol ini akhirnya terpilih sebagai pemain terbaik Manchester United untuk edisi musim 2014/15. Tentu saja, penghargaan yang diberikan tak terlepas dari performa apiknya dibawah mistar gawang Setan Merah sepanjang kampanye musim 2014/15 ini, karena seperti diketahui, De Gea telah melakukan sejumlah penyelamatan gemilang nan krusial yang membuat United meraih poin penting. Hasilnya terlihat jelas, mereka hampir pasti berlaga di ajang Liga Champions Eropa musim depan.

Berdasarkan statistik yang dirilis oleh OptaJoe, David De Gea telah mencatatkan penampilan yang impressif sepanjang musim ini. Dari total 37 penampilan yang ia lakoni, Eks Atletico Madrid tersebut hanya kebobolan 36 gol, mencatatkan 10 Cleansheet, dengan total Jumlah penyelamatan sebanyak 93, dan rataan penyelamatan nya adalah 72,1.

Olegunar Solskjaer sempat melayangkan pujian kepada penjaga gawang yang pernah dinilai memiliki postur tubuh kurang mumpuni ini.

“Saya sudah sering menyaksikan performa gemilang dari seorang penjaga gawang yang satu tim dengan saya, misalnya saja Schmeichel, kemudian Van Der Sar. Namun, hari ini saya melihat performa terbaik yang pernah saya lihat di Old Trafford”

“De Gea melakukan penyelamatan yang sangat banyak, setidaknya ada enam peluang yang seharusnya dikonversi lawan menjadi gol. Dia benar-benar kiper yang luar biasa, mengingatkan saya pada sosok David Seaman, dan mampu membua lawan sangat kesulitan dalam membobol gawangnya” Ujar Legenda Manchester United itu.

Barcelona Jadi Juara La Liga Primera Spanyol Musim 2014-15

Barcelona Jadi Juara La Liga Primera Spanyol Musim 2014-15

Lionel Messi kembali muncul sebagai pahlawan Los Cules, berkat gol semata wayangnya di menit ke-65 di Vicente Calderon, Barcelona berhasil merengkuh trofi Juara La Liga Spanyol musim ini.

Layaknya drama balas dendam, jika musim lalu Camp Nou menjadi tempat bagi Atletico Madrid untuk memastikan titel juara La Liga, maka musim ini giliran Barcelona pastikan Estadio Vicente Calderon menjadi tempat bagi mereka untuk merayakan trofi Juara La Liga. Ya, Los Blaugrana berhasil memenangkan pertandingan krusial di Estadio Vicente Calderon melawan Atletico Madrid pada Senin dinihari (18/05), berkat gol tunggal yang diciptakan Lionel Messi pada menit ke-65, Blaugrana berhak atas trofi Juara La Liga Primera Spanyol musim ini.

Pertandingan yang berlangsung 2×45 menit itu berlangsung sangat ketat, dimana Atletico Madrid kerap memberikan ancaman yang berbahaya, namun lini pertahanan Barca plus hebatnya claudio Bravo di bawah mistar gawang membuat serangan Tuan Rumah terlihat bagai pisau tumpul.

Barcapun demikian, namun mereka memang benar-benar memiliki sosok pembeda yang ada dalam diri Lionel Messi, melakukan umpan satu-dua dengan Pedro dalam kotak penalti, Messi yang dikawal empat penggawa Atletico Madrid berhasil menemukan celah untuk menaklukan Jan Oblak di menit ke-65. Gol! Barcelona memimpin hingga akhir lagi meskipun sempat terjadi kericuhan antar pemain akibat aksi provokasi Neymar.

Dengan hasil itu, Barca unggul empat poin atas rival dekat mereka, Real Madrid yang di saat bersamaan sukses menang atas Espanyol dengan skor 1-4. Sisa satu pertandingan lagi membuat Real Madrid tak mampu merebut trofi Juara.

Dukungan Pemain Madrid untuk Ancelotti

Dukungan Pemain Madrid untuk Ancelotti

Setelah gagal membawa Real Madrid menuju ke partai puncak Liga Champion, nasib Carlo Ancelotti mulai dipertanyakan banyak kalangan. Usai kegagalan Real Madrid di semi final Liga tertinggi di benua Eropa tersebut, besar kemungkinan Los Blancos untuk puasa gelar musim ini. Tim asal ibu kota Spanyol tersebut kalah agregat dari tim asal Italia, Juventus, dan mengakhiri kompetisi Liga Champion musim ini setelah musim lalu mampu membawa pulang trofi Liga Champion ke Santiago Bernabue. Sebelumnya El Real takluk di kandang Juventus dengan skor 1-2 dan di pertandingan leg kedua yang diselenggarakan di Santiago Bernabue, mereka harus puas dengan skor imbang 1-1 yang memastikan tersingkirnya mereka dari kompetisi paling bergengsi yang mempertemukan klub-klub terbaik di Eropa tersebut.

Kemudian kemungkinan untuk mendapatkan gelar La Liga musim ini juga sangat tipis, karena sang rival, Barcelona, hanya butuh satu kemenangan untuk memastikan memboyong trofi La Liga musim ini. Saat ini Madrid telah tertinggal 4 poin dari Barca yang menempati peringkat pertama klasemen sementara dengan poin 90. Sedangkan untuk trofi Copa del Rey, Madrid sudah pasti tidak ada harapan lagi setelah tersingkir bahkan sejak 16 besar. Karena itulah, kans Madrid untuk mendapatkan trofi musim ini seperti hanya sebuah angan-angan belaka. Dan bagaimana dengan spekulasi masa depan Don Carlo setelah kegagalan Madrid musim ini?

Salah satu pemain tengah Real Madrid, Toni Kroos pun angkat bicara mengenai spekulasi dari pelatih asal Italia tersebut. Pemain yang diberi julukan The Sniper atau Si Penembak Jitu tersebut memberikan dukungan positif pada Carlo Ancelotti. Menurutnya, Ancelotti adalah pelatih yang hebat dan dia sangat senang bekerjasama dengannya. Namun tentu saja, keputusan apa yang akan terjadi di masa depan, menurutnya bukanlah keputusannya. Kemudian menurutnya tentang kegagalan Real Madrid dalam melawan Juventus baru-baru ini dikarenakan oleh penyelesaian akhir dari El Real yang tidak begitu baik. Menurutnya, mereka telah mampu menciptakan banyak peluang seperti umpan silang di area penalti yang akhirnya tak dapat memberikan gol tambahan karena kurangnya penyelesaian akhir.

Menurutnya, banyak peluang bagus terutama di babak pertama yang selalu mereka lewatkan. Akhirnya mereka tak bisa mengoyak jala lawan untuk kedua kalinya dan harus menelan kegagalan dan tersingkir dari Liga Champion musim ini. Dan karena kegagalan itu lah, pelatih yang saat ini melatih Real Madrid sedang banyak diperbincangkan masa depannya, khususnya perbincangan tentang pemecatan dirinya setelah kemungkinan besar gagal untuk menyumbangkan satu pun gelar untuk Los Blancos. Apakah Ancelotti akan tetap bertahan di Madrid? Ataukah dia akan hengkang dari Madrid musim ini? Bagaimanakah nasib Carlo Ancelotti selanjutnya? Kita tunggu saja perkembangannya.

Rossoneri Resmi Melepas Robinho

Rossoneri Resmi Melepas Robinho

Dipastikan akan berstatus bebas transfer di pertengahan tahun ini, Robinho semakin dekat untuk kembali menjadi pemain Santos secara permanen. Robinho memang disebut-sebut ingin sepenuhnya bermain untuk tim asal Brasil, Santos, setelah tidak lagi dibutuhkan kontribusinya oleh sang pelatih Rossoneri, Fillipo Inzaghi. Saat ini pemain dengan nama asli Robson de Souza ini berstatus pemain pinjaman di Santos dan telah mengemas 12 gol si setiap kompetisi yang diikutinya. Dengan penampilan yang cukup memuaskan tersebut, pihak Santos pun berniat untuk memulangkan mantan pemain Manchester City dan Real Madrid ini secara permanen. Akan tetapi dengan sisa kontrak Robinho yang masih berlaku sampai 30 Juni 2016 tersebut, rasanya berat bagi Santos untuk memulangkan Robinho.

Namun, angin segar datang kepada Santos setelah Milan resmi memutuskan untuk mengakhiri kontrak dengan Robinho di akhir musim ini tepatnya pada 30 Juni 2015 atau tepat setahun sebelum kontrak pemain asal Brasil itu berakhir seharusnya. Dengan ini, Robinho dipastikan akan berstatus bebas transfer di bursa transfer mendatang dan dapat bergabung dengan tim yang sebelumnya telah membesarkan namanya tersebut. Awalnya pemain berusia 31 tahun tersebut memang mengawali karirnya bersama Santos sebelum akhirnya pindah ke Real Madrid dan kemudian Manchestes City. Namun, pada saat bermain untuk City, dia juga sempat dipinjamkan ke Santos sampai akhirnya dia hengkang ke Rossoneri dan kembali dipinjamkan ke Santos pada Agustus 2014.

Didatangkan oleh Rossoneri pada musim 2010/2011 dari klub asal Manchester yang terkenal dengan julukannya The Citizens, Robinho bukanlah tanpa kontribusi bagi AC Milan. Dengan 144 penampilannya bersama Rossoneri, dia telah berhasil mencetak 32 gol dan turut serta mengangkat trofi Serie A pada musim pertamanya bersama tim asal Milan tersebut. Namun, meskipun demikian, AC Milan telah resmi mengakhiri kontrak mereka dengan salah satu bintang kenamaan Brasil tersebut dan dengan demikian mulai 1 Juli tahun ini, Robinho telah resmi bukan milik tim manapun.

Setelah resmi melepas Robinho yang masih memiliki kontrak satu tahun bersamanya, dalam situs resminya AC Milan telah berterimakasih atas kontribusi pemain asal Brasil tersebut selama menjadi bagian dari Rossoneri. Menurut pernyataan resmi mereka, Robinho telah memberikan penampilan terbaiknya terutama dalam hal mencetak gol sebagai pemain penyerang. Mereka juga mengucapkan salam perpisahan kepada Robinho yang sebenarnya secara tidak langsung sudah berpisah dengan AC Milan selama dipinjamkan ke Santos. Dan tentunya saat ini, tim yang bermarkas di Vila Belmiro ini tak perlu mengeluarkan biaya besar untuk memboyong Robinho kembali ke Santos. AC Milan kemudian disebut-sebut mengakiri kontrak Robinho karena mereka berencana untuk meminang salah satu pemain potensial dari Santos yaitu Gabigol.

Marchisio Menetapkan Fokus pada Coppa Italia

Marchisio Menetapkan Fokus pada Coppa Italia

Penetapan fokus Marchisio pada Coppa Italia merupakan sesuatu yang masuk akal. Setiap pertandingan membutuhkan perhatian dan usaha yang berbeda. Tidak akan ada gunanya bila pemain dibiarkan teralihkan dengan pertandingan Liga Champions sementara pertandingan final Coppa Italia akan berlangsung pada 20 Mei. Ini adalah keputusan bijak yang perlu disalurkan pada setiap pemain karena Marchisio memang berencana untuk mengungguli kedua ajang tersebut. Selisih agregat membuat Juventus melanjutkan perjuangannya menuju akhir Liga Champions melawan Barcelona. Perjuangan ini tidak akan mudah dan membutuhkan usaha ekstra. Pertandingan untuk final Liga Champions akan berlangsung pada tanggal 6 Juni. Pertandingan Juve sebelumnya dengan Real Madrid memberikan hasil 1-1. Pertandingan ini dilaksanakan di kandang Madrid sehingga usaha yang dibutuhkan pada saat itu cukup besar.

Juve akan menghadapi Lazio di Copa Italia. Pertandingan yang akan terjadi dalam beberapa hari lagi membuat ketegangan tersendiri pada setiap orang yang menyaksikan. Pertandingan ini pada awalnya akan berlangsung pada tanggal 7 Juni di Stadio Olimpico. Sayangnya perubahan harus dilakukan karena Juve berhasil meraih jadwal pertandingan tambahan dengan menahan imbang Real Madrid 1-1. Pertandingan final Liga Champions ini akan dilaksanakan di Berlin. Pergeseran tanggal pertandingan ini bukanlah merupakan sesuatu yang menguntungkan untuk Lazio. Pergeseran tanggal tersebut akan membuat Lazio terpaksa harus menyiapkan diri untuk dua pertandingan sekaligus karena 4 hari setelah final melawan Juventus Lazio harus menghadapi Roma untuk memperebutkan posisi kedua.

Kontingen yang akan diangkut ke San Siro tidak akan penuh. Akan ada beberapa pemain yang ditinggalkan. Martin Caceres tentu saja termasuk ke dalam sejumlah pemain tersebut karena cidera yang dialaminya masih jauh dari penyembuhan total. Keputusan untuk meninggalkan Caceres mendorong Allegri untuk meninggalkan beberapa pemain lainnya. Pemain yang dinyatakan akan ditinggalkan adalah Carlos Tevez, Andrea Pirlo, Gianluigi Buffon, Patrice Evra and Arturo Vidal. Allegri adalah satu-satunya orang dalam Juventus yang memiliki fokus terpecah pada saat ini. Dia memang telah merencanakan persiapan tersendiri untuk menghadapi Barcelona pada final Liga Champions. Dia menyatakan latihan dan istirahat harus dilakukan dalam porsi yang tepat. Kedua hal tersebut sama pentingnya karena mereka akan menghadapi dua pemain top dalam waktu yang berdekatan.

Fokus untuk sementara akan dipusatkan pada tiga hal yaitu Inter, Coppa Italia and Napoli. Ini merupakan situasi yang berat untuk setiap orang yang terlibat dalam Juventus. Sebuah persiapan yang matang dan kemampuan untuk menenangkan diri dibutuhkan. Kepemimpinan yang baik tentu saja sangat menentukan keberhasilan Juventus dalam setiap pertandingan tersebut. Allegri tidak ingin pemain Juventus tidak bisa mengendalikan diri dan menjaga ketenangan dalam pertandingan Liga Champions. Hal tersebut adalah sesuatu yang penting karena itu akan menentukan peluang kemenangan tim.

Dari Conte Menjadi Sempurna oleh Allegri

Dari Conte Menjadi Sempurna oleh Allegri

Massimiliano Allegri menunjukkan prestasi besar di musim ini dengan berbagai tindakan luar biasa. Keahlian yang luar biasa ini dianggap sebagai bukti kemampuan Allegri untuk melanjutkan usaha yang diawali oleh Antonio Conte yang membuktikan kemampuannya dengan membuat Juventus berhasil meraih kemenangan secara beruntun selama 3 musim. Beberapa orang bahkan menganggap hasil kemenangan scudetto Juventus selama 3 musim dari 2012 sampai 2014 yang dilakukan oleh Conte tidak hanya dilanjutkan, namun dinyatakan bahwa Allegri menunjukkan kemampuan jeniusnya tersendiri dan mengembangkan bakat yang telah ada sehingga pekerjaan yang diawali oleh Conte tersebut menjadi sempurna sehingga scudetto kembali dapat di raih pada tahun 2015. Pada titik ini Juventus berhasil meraih gelar tersebut selama 4 tahun berturut-turut.

Banyak penggemar Juventus yang pada awalnya tidak menginginkan keberadaan Allegri di dalam klub Juventus. Keputusan manajemen Juventus yang menyerahkan posisi Conte pada Allegri telah memberikan kekhawatiran besar bagi setiap orang yang ingin Juventus bisa mendapatkan scudetto untuk ke empat kalinya. Pada akhirnya Allegri berhasil membuktikan bahwa kekhawatiran yang ada pada masa awalnya sebagai pelatih Juventus adalah sesuatu yang sia-sia. AC Milan memang memecat Allegri berdasarkan performa klub yang dianggap tidak memberikan hasil apa-apa. Allegri dinyatakan sebagai penyebab dari situasi tersebut karena posisinya sebagai pelatih. Tentu saja kepindahannya ke Juventus membuat banyak orang menjadi tidak setuju karena mereka tidak ingin Juventus mencatat prestasi buruk setelah penampilannya yang istimewa.

Alasan untuk pernyataan Allegri menyempurnakan pekerjaan Conte didasarkan dari pengamatan tindakan Allegri selama menjabat sebagai pelatih klub. Conte merupakan seorang pelatih yang baik karena dia berhasil membangun kekuatan tim yang luar biasa secara perlahan. Allegri menunjukkan keistimewaannya dengan cara lain. Sejumlah strategi dan taktik diaplikasikan dalam pendekatannya sehingga Juventus bukan hanya sebuah tim yang kuat namun dipenuhi oleh berbagai taktik dan strategi. Memiliki dua kualitas in tentu saja membuat tim apapun tidak bisa dikalahkan dengan mudah. Pada musim ini teori tersebut berhasil dibuktikan. Kelanjutan dari keberhasilan Juventus tentu saja masih menjadi sesuatu yang menarik untuk diamati.

Conte membutuhkan disiplin dan aturan yang baku yang diterapkan ke dalam tim. Hal ini adalah sesuatu yang wajar karena dalam proses pembangunan hal tersebut selalu menjadi penentu. Permainan yang ditampilkan tim Juventus di bawah asuhan Conte memang menghasilkan sesuatu yang menarik untuk dilihat. Allegri menerapkan pendekatan yang berbeda. Strategi yang digunakan bisa sangat beragam sehingga permainan Juventus menjadi lebih menarik dengan variasinya. Konsistensi merupakan tujuan dari Allegri. Menetapkan teknik bertahan dan menang dengan selisih tipis bukanlah masalah. Jika dijajarkan Conte dan Allegri merupakan dua orang dengan kemampuan yang jauh berbeda. Salah satu diantara mereka tidak bisa dikatakan lebih baik dari yang lain.

Suarez Cedera, Alamat Tak Bisa Tampil

Suarez Cedera, Alamat Tak Bisa Tampil

Kabar tak baik datang dari Luiz Suares yang merupakan striker Barcelona. Telah berhasil sampai ke final Liga Champion rupanya tak disambut dengan kabar bahagia. Kabarnya Suarez kini mengalami cedera parah pada Hamstringnya. Kala bertanding melawan Bayern Munich di semifinal Liga Champion, Suarez tak bermain penuh 90 menit. Saat pergantian babak pertandingan ia terpaksa ditarik keluar oleh pelatihnya karena cedera yang dialaminya membuatnya tak memungkinkan untuk terus bertanding. Setelah keluar posisinya kemudian digantikan oleh rekannya yaitu Pedro Rodrigues. Dalam permainannya itu Suarez hanya bisa menyumbangkan dua assist untuk dua gol yang diciptakan Neymar. Setelahnya ia tak bisa bertanding dan dipaksa keluar.

Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh situs resmi Barca, Suarez mengalami cedera pada otot hamstringnya yang terletak di kaki kiri. Oleh karenanya kemudian Suarez melakukan fisioterapi dan akan menjalani perawatan medis untuk menyembuhkan cedera yang dialaminya. Ia akan kembali berlatih setelah kesehatannya membaik dan cederanya dirasa sudah sembuh. Proses pemulihan yang dilakukan Suarez nampaknya akan membutuhkan banyak waktu sehingga untuk beberapa pertandingan ke depan ia mungkin akan absen. Kesehatan adalah hal yang terpenting. Selama ia cedera maka permainannya tak akan bagus dan malah akan mempersulit timnya sehingga ia kini menjalani perawatan untuk segera sembuh dan pulih agar ia bisa bermain kembali.

Suarez terancam tidak akan bermain di pertandingan selanjutnya saat Barcelona melawan Madrid pada Jornada ke-37 di La Liga pada hari minggu tanggal 17 Mei 2015 ini. Bahkan jika cederanya tak segera bisa pulih maka kemungkinan ia juga akan melewatkan pesta juara Vicente Calderon. Barca saat ini meminmpin klasemen dengan perolehan 90 poin diyakini berpeluang besar dalam memenangkan pertandingan minggu ini. Jika berhasil mendapatkan poin penuh di pertandingan ini bisa dipastikan ia akan bisa menjuarai Liga ini. Tanpa Suarez, timnya harus bisa bermain dengan baik. Kehilangan Suarez tentunya masih bisa digantikan oleh pemain lain, entah bagaimana hasilnya karena kemampuan setiap anggota tim berbeda meski posisinya sama.

Suarez tampil dengan sangat memuaskan sejak ia bergabung dengan Liverpool musim panas lalu. Suarez telah mengemas 24 gol dan juga 16 assist di berbagai kompetisi yang diikutinya. Striker yang berusia 28 tahun itu telah mengeluarkan seluruh potensinya melalui berbagai gol yang diciptakan dan juga peluang-peluang yang ia ciptakan untuk membantu timnya. Suarez memang tergolong pemain dunia yang berbakat. Ia bisa lebih berkembang di Liverpool. Meski tergolong baru bergabung tak lantas membuat Suarez gugup dan kehilangan potensinya. Nyatanya ia mampu bermain dengan baik dan memuaskan banyak pihak terutama para fans. Semoga cidera yang dialaminya cepat sembuh.

Akan Keluar Dari Liverpool, Gerrad Menyesal Tak Pernah Dapat Trofi Premier League

Akan Keluar Dari Liverpool, Gerrad Menyesal Tak Pernah Dapat Trofi Premier League

Kiper Liverpool, Steven Gerrad sebentar lagi akan meninggalkan Liverpool. Gerrad telah bergabung dengan Liverpool selama kurang lebih 17 tahun. Ia telah bergabung sejak 1998 pada 29 November.

Karirnya di Liverpool cukup baik, mengingat dalam 17 tahun ia telah berhasil memberikan 10 trofi untuk Liverpool. Hampir semua piala pernah diraihnya, kecuali piala Premier League yang samapi detik ini belum berhasil ia raih. Kini ia harus meninggalkan Liverpool dengan penyesalan karena ia memang sangat menginginkan meraih trofi Premier League. Namun semua yang diraihnya hingga kini adalah pencapaian yang luar biasa yang bahkan diawal karirnya tidak terfikirkan akan menjadi pemain dunia seperti ini.

Sejak debut pertamanya di tim utama dari Liverpool tahun 1998, hingga kini ia telah memainkan 708 pertandingan dan ia telah mendapatkan 10 trofi dalam 17 tahun karirnya tersebut. 10 trofi itu termasuk dua gelar di Piala Eropa, tiga gelar di Piala Liga Inggris, satu gelar di Liga Champion, satu gelar di Piala UEFA, dua gelar di Piala FA, dan satu gelar di Community Shield. Dari semua trofi yang ia dapatkan, hanya satu yang belum sempat ia raih yaitu trofi Premier League. Untuk Liga satu itu Gerrald tak pernah membawa timnya menjadi juara. Ia pernah tiga kali meraih gelar runner up.

Tiga runner up yang pernah diraih Gerrald yaitu pada musim 2001/2002, pada 2008/2009, dan pada 2013/2014. Liverpool sendiri pernah meraih trofi Premier League terakhir pada tahun 1989/1990 yang pada saat itu belum dimulai era Premier League. Kini Gerrald tak lagi bisa membersamai timnya untuk maju di Premier League. Ia sudah tak mungkin lagi meraih trofi itu di Liverpool. Sesuatu yang menyedihkan mengingat sudah tiga kali ia mencoba menembus final tetapi yang ia dapatkan hanyalah gelar Liverpool tanpa pernah sekalipun mendapatkan trofi juara. Namun meski demikian ia tetaplah bangga bisa bergabung di Liverpool sampai sejauh ini. Ia mensyukuri apa yang tel;ah ia raih.

Semua trofi yang telah ia dapatkan ibarat kebanggaan yang akan terus ia kenang. Ia merasa bahagia bersama Liverpool selama 17 tahun. Banyak kenangan indah yang tertoreh yang membuatnya tak begitu saja melupakan klubnya itu. Tentu saja tidak memenangi Premier League adalah kekurangan yang harus ia relakan dan akan menjadi penyesalan yang turut ia bawa pergi. Pencapaian yang banyak ia lakukan di Liverpool ibaratnya berkah yang tak pernah sekalipun ia bayangkan saat pertama kali ia bergabung, saat ia menjadi bocah. Gerrald akan mengakhiri masa kontraknya dengan Liverpool pada musim panas tahun ini dan akan bermain di Los Angeles Galaxy.

Sterling Tak Kunjung Tandatangani Kontrak Dengan Liverpool

Sterling Tak Kunjung Tandatangani Kontrak Dengan Liverpool

Sterling, pemain berusia 20 tahun kali ini tengah bimbang dengan perpanjangan kontrak yang ditawarkan oleh Liverpool. Hingga kini ia tak kunjung menandatangani kontrak yang ditawarkan Liverpool tersebut. karena hal itu, masa depannya dispekulasikan. Ia juga nampak dihubung-hubungkan akan bergabung dengan klub lain. Sepertinya Sterling menginginkan untuk bergabung dengan klub lainnya yang kemungkinan bisa mengembangkan bakatnya lebih jauh sehingga menimbang-nimbang berkas kontrak dengan Liverpool selama ini. Pemain muda seperti Starling memang tak heran bila masih mencari jati diri dengan bergabung dengan klub lain yang mungkin menurutnya lebih bagus. Bukan klub besar yang dibutuhkannya, tetapi klub dengan orang-orang yang bisa terus mendukungnya.

Menurut Steven Gerrad yang merupakan kapten dari Liverpool mengatakan bahwa Sterling harusnya menandatangani kontrak yang ditawarkan oleh klubnya. Ia yakin bahwa Sterling akan menjadi pemain muda yang berbakat bila ia terus melanjutkan karirnya di Liverpool. Brendan Rodgers adalah manajer Liverpool yang menurutnya akan bisa menangani Sterling dan membimbingnya menjadi pemain muda yang berbakat. Ia yakin jika Sterling menandatangani kontraknya dengan Liverpool maka ia akan aman dan bisa terus berkembang di bawah bimbingan Rodgers dan kemampuannya akan bisa terus ditingkatkan. Namun keputusan tersebut bukanlah kuasa Gerrad yang mana sepenuhnya ditangan Sterling. Ia hanya berharap Sterling tak tergiur untuk pindah klub lain.

Gerrad memberikan nasehat kepada Sterling bahwa dirinya membutuhkan manajer seperti Rodgers yang bisa yakin kepada setiap anggota timnya, membantunya terus berkembang dan melatihnya dengan baik. Menurutnya Rodgers adalah manajer terbaik untuk mencetak pemain muda yang berbakat, oleh karenanya ia ingin Sterling agar tetap berada di sekitarnya dan berlatih bersamanya. Gerrad memuji kemampuan Rodgers dalam menangani para pemainnya. Pemain muda akan bisa sukses ditangannya. Bagaimanapun sebagai pemain muda yang belum banyak pengalaman tentunya sulit untuk mengembangkan bakatya bila ia tak ditanganni oleh orang yang tepat. Kepercayaan adalah kunci utama dalam belajar. Bila tak ada kepercayaan, Sterling mungkin akan terombang-ambing tak menentu.

Pemain muda seperti Sterling biasanya menginkan hal yang terlalu banyak. Banyak yang ia inginkan, padahal diusianya yang masih muda ia masih harus terus mengembangkan potensinya. Mengembangkan potensi itu paling penting karena dengan semakin besarnya potensi yang ia miliki maka ia seterusnya akan bisa meraih apapun yang ia inginkan, bukannya malah mendompleng klub-klub besar. Mungkin ia akan bisa banyak memenangkan piala, namun apalah gunanya itu bila dirinya sendiri tak banyak mengeluarkan potensinya. Akibatnya mungkin ia akan banyak keluar masuk klub karena buruknya permainan karena kurang kuatnya kemampuan yang dimilikinya. Oleh karenanya lebih baik Sterling menerima tawaran Liverpool dan mengembangkan potensinya disana.

Sindiran Paul Scholes akan Kebijakan Belanja Manchester United

Sindiran Paul Scholes akan Kebijakan Belanja Manchester United

Sebagian besar masyarakat dunia tentunya menyukai olahraga yang bernama sepakbola ini dibandingkan dengan olahraga lain. Hal tersebut dapat dilihat dari antusias yang sangat menggembu dari para pecinta sepakbola di seluruh dunia apabila diselenggarakan momen akbar sepakbola sekelas piala dunia ataupun pertarungan antar klub-klub raksasa atau bergengsi. Kemegahan panggung pertandingan sepak bola sekelas liga Inggris maupun liga Serie A Itali selalu berhasil mencuri perhatian dunia. Cerita tentang sepakbola pun tidak hanya mengenai pertandingan yang diadakan tetapi juga sering menyangkut tentang pelatih, menejer, pelatih maupun klub sepakbola. Untuk kabar kali ini, berita yang cukup menarik datang dari salah satu pentolan raksasa Inggris, Manchester United.

Berita yang menarik tersebut datang dari Paul Scholes yang terbilang cukup lama merumput di Manchester United. Scholes yang lahir di Salford, Inggris pada tanggal 16 November 40 tahun silam ini memulai debutnya sebagai pemain sepakbola pada tahun 1993 dengan menandatangani kontrak profesional pertamanya bersama Manchester United yang terus diperpanjang hingga tahun 2011 lalu, total sudah ada 466 laga yang ia lalui bersama Manchester United selama rentang waktu tersebut. Gemilang karir dari pemain berkebangsaan Inggris yang biasa menempati posisi midfielder ini membuatnya tetap di percaya untuk membela tim berjuluk Setan Merah ini hingga saat ini. Bila menghitung torehan gol yang telah disumbangkan oleh Paul Scholes dari tahun 2011 hingga 2013, Paul Scholes telah memberikan sumbangsi yang lebih dari cukup untuk Manchester United.

Tetapi Paul Scholes pernah sedikit mengutarakan ketidakpuasannya terhadap kebijakan Manchester United melalui sebuah sindirian yang ia alamatkan kepada menajemen Manchester United. Kebijakan yang nampaknya kurang Paul Scholes suka adalah kebijakan terkait dengan belaja pemain Manchester United. Manchester United saat ini menempati posisi 4 di Liga Premier dengan torehan nilai 68 poin dalam 36 pekan. Paul Scholes bersama timnya, Manchester United unggul 6 poin di atas Liverpool yang bertengger di posisi 5 di Liga Premier.

Dalam komentarnya Paul Scholes menyampaikan pendapatnya mengenai Chelsea, Arsenal dan Manchester City yang menambah stok pemain mereka guna meningkatkan kualitas permainan. Hal yang menarik datang dari statement selanjutnya Scholes yang membandingkan Machester United saat ini dengan Manchester United dahulu yang dipimpin oleh Sir Alex Ferguson. Ia membandingkan formasi lini beck belakang pada saat masa Alex Ferguson dengan saat ini, ia mengangap bahwa lini belakang Manchester United Saat ini dapat dikatakan minim akan stok beck. Ia juga memberikan komentar ketidakpuasannya akan lini belakang yang didominasi oleh beck yang kurang memberikan performa lebih, dikarenakan banyak hal, mulai dari kartu merah hingga cedera, beck-beck yang disebutkannya adalah Johny Evans, Phil Jones dan Smalling.