Joachim Low Bingung Tentukan Kapten Baru Timnas Jerman

Joachim Low Bingung Tentukan Kapten Baru Timnas Jerman

Sejumlah nama penggawa Senior Timnas Jerman sudah dikantongi Low, dimana salah satu diantara mereka akan memegang tanggung jawab sebagai kapten di Piala Euro 2016 mendatang.

Selepas Turnamen Piala Dunia 2014 kemarin, Jerman kembali menjadi sorotan dunia setelah berhasil menjadi juara Dunia di Brasil, tapi mereka harus kembali memutar otak , melakukan regenerasi setelah ditinggalkan oleh sejumlah pemain bintang macam Philip Lahm, Miroslav Klose dan Per Mertesacker, dimana ketiga sosok veteran itu telah memutuskan untuk pensiun dari level Internasional. Kini yang menjadi pertanyaan dan kecemasan pelatih Joachim Low adalah siapa sosok yang pantas meneruskan peran Philip Lahm sebagai Kapten Utama dalam skuat asuhannya, terlebih ajang Piala Euro 2016 sudah semakin dekat.

Selama ini, Manuel Neuer telah memegang ban kapten, tapi tak ada jaminan bagi sang Kiper untuk terus demikian sampai turnamen Piala Euro 2016 Prancis digelar. Pelatih Joachim Low sendiri mengaku telah mengantongi sejumlah nama yang mungkin salah satunya akan menjadi kapten tim.

“Tidak ada kesulitan herarki dalam skuat kami, namun sebuah tim harus menemukan tim itu sendiri sebelum mereka bisa bermain bagus bersama-sama. Pertanyaan selanjutnya yang harus sudah terjawab sebelum Euro musim panas tahun depan adalah, siapa yang akan bertanggung jawab dalam situasi sulit? Siapa yang akan menjadi panutan bagi para pemain muda? Dan siapa pemain yang akan memimpin tim?”

“bastian Schweinsteiger, Jerome Boateng, mats Hummels, Sami Khedira, Manuel Neuer, Toni Kroos dan Thomas Muller telah memulai peran ini, mereka melakukan pekerjaan yang bagus” Ujar Low kepada Welt Am Sonntag.

Bastian Schweinsteiger Isyaratkan Tolak Tawaran Manchester United

Bastian Schweinsteiger Isyaratkan Tolak Tawaran Manchester United

Walau tak mengungkapkannya secara langsung, tapi dari pernyataan sang Gelandang Internasional Jerman tersebut sudah terlihat bahwa Manchester United tak berpeluang mendapatkan servisnya tahun ini.

Seperti diketahui, Bastian Schweinsteiger memang sudah lama dikaitkan dengan kepindahannya menuju Manchester United, dimana pelatih anyar tim Setan Merah, Louis Van Gaal diklaim tertarik untuk memperkuat lini tengah tim asuhannya musim depan dengan mendatangkan schweini, sosok yang sudah dia kenal betul kapasitasnya karena pernah menangani Bayern Munich cukup lama. Adapun, Schweinsteiger sendiri dikabarkan memiliki niatan untuk meninggalkan Allianz Arena lantaran tak lagi menjadi pilihan utama pelatih Pep Guardiola.

Namun sepertinya kabar tersebut tak benar, melalui pernyataannya kepada reporter setempat, Bastian Schweinsteiger mengisyaratkan bahwa dia akan tetap bertahan di Allianz Arena bahkan sampai tiga tahun ke depan.

“Kami telah berhasil memenangkan Bundesliga Jerman selama tiga kali beruntun, dan sejauh ini belum ada tim yang bisa memenangkannya selama empat kali beruntun, itu adalah sebuah motivasi bagi kami. Saya merasa baik-baik saja (di sini) dan saya siap bermain sampai tiga tahun ke depan dalam level tertinggi, itulah target saya” Ujar Schweinsteiger kepada Reporter setempat.

Bastian Schweinsteiger telah bermain untuk Bayern Munich sejak tahun 2002 silam, dan sejauh ini sudah mencatatkan 500 caps di berbagai ajang plus 36 gol. Dia sukses persembahkan 22 gelar juara untuk Bayern, satu diantaranya adalah trofi Liga Champions Eropa.

Karakter Benitez Akan Hasilkan Gelar Bagi Real Madrid

Karakter Benitez Akan Hasilkan Gelar Bagi Real Madrid

Josemi, mantan pemain Liverpool ini yakin akan tuah Benitez bakal mampu menghadirkan gelar bagi klub sekelas Real Madrid, dan dia tak merasa Rafa selalu mengusung gaya bermain bertahan.

Rafael Benitez, 55 tahun, telah resmi ditunjuk oleh Real madrid untuk menjabat sebagai pelatih utama Tim mulai musim panas ini menyusul pemecatan Carlo Ancelotti sesaat setelah berakhirnya kompetisi musim 2014/15 kemarin. Tentu saja ada beban dan tugas yang berat menanti Benitez, pasalnya musim lalu Los Blancos sama sekali tak berhasil meraih gelar juara, dimana hal tersebutlah yang diyakini sebagai cikal bakal pemecatan Don Carletto. Banyak pihak yang tak yakin akan tuah Benitez saat tangani Ronaldo cs musim depan, karena sejauh ini pelatih asli Spanyol itu tak berhasil menunjukkan konsistensinya.

Namun tidak bagi Josemi, mantan pemain Liverpool ini yakin Benitez bakal hadirkan gelar bagi Los Blancos, dia juga tak merasa bahwa sosok pelatih berusia 55 tahun itu selalu mengusung filosofi bertahan dalam taktik yang diterapkannya.

“Dia adalah sosok yang ngotot dan perfeksionis, dia suka bekerja dan seorang penuntut, dia membuat para pemain merasa lebih baik. Dia juga memiliki tim kolaborator yang sangat mempercayainya juga mempelajari lawan secara mendetail. Dia sangat menyukai sepakbola dan saya tak merasa bahwa dia adalah pelatih yang defensif, selain itu semua tim yagn dia tangani selalu bisa meraih gelar juara” Ujar Josemi kepada reporter setempat.

Jose Mourinho Juga Mampu Bawa Arsenal Juarai Liga Primer

Jose Mourinho Juga Mampu Bawa Arsenal Juarai Liga Primer

Tidak hanya Arsenal, Jose Mourinho juga diyakini mampu juarai Liga Primer Inggris jika tangani Manchester City, menurut mantan pemain Chelsea, Tony Cascarino.

Sebagaimana diketahui, Chelsea berhasil meraih trofi Liga Primer Inggris lagi, dimana keberhasilan tersebut tak hanya karena kualitas skuat yang mereka miliki namun juga peran seorang taktikal di belakang layar, Jose Mourinho. Ya, The Special One yang sempat tak mampu hadirkan gelar apapun di musim sebelumnya, berhasil membayar lunas kepercayaan para fans dengan mempersembahkan trofi Juara Liga Primer Inggris juga trofi Piala Liga.

Fakta bahwa Jose Mourinho adalah seorang taktikal handal memang tak bisa dipungkiri lagi. Bahkan, jika sosok pria asal Portugal itu diberi kesempatan tangani Arsenal, maka Meriam London akan tetap berhasil menjadi juara, begitu anggapan seorang mantan pemain Chelsea, Tony Cascarino.

“Saya yakin jika Mourinho menjadi pelatih Arsenal, maka dia tetap akan memenangkan Liga, begitu juga jika dia menangani Manchester City, itulah kualitas yang dia bawa. John Terry memang mengatakan bahwa Cech memiliki 15 angka dalam keberhasilan Chelsea, mungkin memang seperti itu, tapi Mourinho memiliki nilai yang lebih besar dari itu”

“Kita bisa melihat dua sisi Chelsea musim lalu, kita melihat bagaimana tim yang sangat menghibur, dan kemudian ketika melihat situasi cukup ketat, mereka bermain sangat rapat tanpa memberikan banyak ruang, itulah yang dilakukan seorang pelatih” Ujar Cascarino kepada Sky Sports News.

Kegagalan Di Final UCL buat Para Pemain Juventus Susah Tidur

Kegagalan Di Final UCL buat Para Pemain Juventus Susah Tidur

Kuatnya hubungan antar pemain membuat Juventus tetap memiliki mental pemenang, tanpa peduli terjadinya beberapa pergantian pemain dan pelatih, klaim Simone Pepe.

Para pemain Juventus ternyata mengalami situasi hati yang sangat tak karuan setelah gagal meraih gelar juara Liga Champions Eropa musim kemarin, dimana kesempatan itu adalah kesempatan satu-satunya sejak 12 tahun silam. Dalam partai Final, Juve yang berada di ambang treble winner dikalahkan oleh Barcleona dengan skor akhir 1-3, dan selepas pertandingan tersebut, tak ada satupun dari pemain yang bisa tertidur pulas, bahkan hingga pagi, mata mereka masih tetap terbuka. Hal itu diceritakan oleh salah seorang penggawa Bianconneri, Simone Pepe.

Dalam keterangannya kepada Tuttosport, Pepe bercerita bagaimana suasan hati para pemain Juventus yang kemudian saling menghibur lewat pesan singkat di Whatsapp. Namun demikian, Pepe yakin akan mental juara yang ada dalam diri rekan-rekannya.

“Tidak ada yang bisa menyembunyikan rasa sakit akan kekalahan di Final Liga Champions, sehari setelah pertandingan di Berlin, saya sudah bilang kepada semua rekan satu tim saya bahwa suasana hati kami terasa lebih buruk dan hal itu sama sekali tak salah. Saya tidak bisa tidur semalaman itu, dan saya juga bukan satu-satunya orang yang sulit tidur”

“Pada pukul 06.45 Pagi, saya masuk ke Group Whatsapp dan melihat para pemain yang lain disana, mereka semua berkumpul, rasa pahit akan nyaris merengkuh trofi Liga Champions Eropa memang sulit untuk kami tanggung”

“Para pemain Juventus telah membentuk ikatan yang sangat kuat, dan saya yakin para pemain baru nanti juga akan mampu membentuknya, itulah kekuatan kami, para pemain dan pelatih boleh datang dan pergi, namun Jersey serta mentalitas pemenang tetap bertahan” Ujar Pepe.

CONMEBOL Resmi Jatuhkan Sanksi dan Denda untuk Gonzalo Jara

CONMEBOL Resmi Jatuhkan Sanksi dan Denda untuk Gonzalo Jara

Copa America tahun ini bagi Gonzalo Jara dipastikan berakhir lebih awal karena sanksi yang diberikan pihak Conmebol terkait insiden pelecehan yang ia lakukan kepada Edinson Cavani.

Federasi Sepakbola Amerika Selatan atau yang kita kenal dengan sebutan CONMEBOL akhirnya berani bertindak sesuai harapan terkait dengan insiden pelecehan yang dilakukan oleh Gonzalo Jara terhadap Edinson Cavani dalam laga perempat final Copa America 2015 antara tuan Rumah Chile melawan Uruguay. Dalam tayangan ulang, terlihat jelas tindakan tak senonoh yang dilakukan Bek Mainz 05 ini terhadap Cavani, namun wasit justru memberikan kartu merah kepada penyerang Paris Saint-Germain tersebut.

Dalam keterangannya, CONMEBOL Resmi memberikan sanksi larangan bertanding sebanyak tiga laga kepada Jara, dimana hal itu secara otomatis membuat sang pemain tak bisa lagi mengenakan seragam Timnas Chile di sisa kompetisi Copa America tahun ini, dia juga dipastikan absen dalam satu laga kualifikasi Piala Dunia 2018. Selain sanksi supensi, Jara juga mendapatkan sanksi denda sebesar 7500 Ribu US Dollar, dimana denda dan skorsing tersebut diberikan agar sang pemain jera dengan pelanggaran yang dia lakukan.

Sebelumnya, sudah banyak muncul kecaman dari berbagai pihak terkait dengan aksi tak terpuji yang dilakukan Jara, bahkan AUF selaku Federasi Sepakbola Uruguay menegaskan akan membawa kasus ini ke pengadilan.

Tim Tuan Rumah Chile sendiri berhasil melangkah ke babak semifinal Copa America 2015 dan akan berhadapan dengan Peru.

Gonzalo Jara Ternyata Juga Hina Ayah Edinson Cavani

Gonzalo Jara Ternyata Juga Hina Ayah Edinson Cavani

Salah seorang asisten pelatih Timnas Uruguay mengklaim bahwa Jara juga mengungkit masalah yang sedang menimpa ayah Cavani, dimana bek Chile itu menyebut ayah Cavani akan dipenjara selama 20 tahun.

Sebuah fakta baru muncul terkait dengan insiden kartu merah Edinson Cavani oleh wasit yang memimpin pertandingan perempat final Copa America 2015 antara Chile melawan Uruguay beberapa hari yang lalu. Dalam insiden tersebut, sebenarnya Cavani tidak salah, penyerang PSG hanya terpancing emosi akan tingkah tak senonoh yang dilakukan Gonzalo Jara, dimana bek Timnas chile itu menodongkan jarinya ke bagian pantat Cavani, sehingga eks Napoli itu langsung bereaksi menyingkirkan tangan Jara.

Nah, ternyata, selain insiden tak senonoh itu, ada kelakuan lain yang dilakukan Jara terhadap Cavani, sehingga memancing emosi penyerang Paris Saint-Germain yang berujung pada kartu merah. Hal ini diungkapkan oleh salah seorang asisten pelatih Timnas Uruguay, dimana dia mengklaim bahwa Jara juga menghina ayah kandung Cavani yang sedang berada di balik Jeruji Besi akibat kecelakaan yang menewaskan seorang remaja 19 tahun.

“Dia (jara) tak hanya menyentuh Cavani, tapi juga mengatakan sesuatu tentang apa yang terjadi di hari sebelumnya, Jara mengatakan bahwa Ayah Cavani akan mendekam di penjara selama 20 tahun. Ini jelas lebih serius dari apa yang terlihat dalam gambar” Ujar Robello sebagai asissten pelatih Oscar Tabarez.

Adapun Federasi CONMEBOL sendiri telah menurunkan sanksi suspensi tiga laga plus denda 7500 USD kepada Gonzalo Jara terkait insiden tersebut.

Iker Casillas Tersanjung Diminati AS Roma

Iker Casillas Tersanjung Diminati AS Roma

Casillas tak ragu menyebut AS Roma sebagai salah satu klub terbaik di Eropa, memiliki basis fans yang sangat antusias akan dunia sepakbola, sang kapten tertarik melanjutkan karir bersama II Lupi.

Masa depan Iker Casillas di Real Madrid saat ini masih simpang siur, hal tersebut terkait dengan keinginan Los Blancos mendatangkan penjaga gawang yang lebih handal dengan usia yang jauh lebih muda dibandingkan Casillas, dimana sosok tersebut adalah David de Gea, milik Manchester United. Ya, De Gea kerap kali diisukan hengkang dari Old Trafford untuk kemudian kembali ke La Liga Spanyol, bermain bersama klub kampung halamannya, Real Madrid.

Para Madridista sendiri sudah sejak lama menunjukkan ketidakpuasan mereka akan kinerja Casillas dibawah Mistar Gawang Los Blancos, dimana sang kapten yang telah mengabdi sejak tahun 1999 silam kerap menjadi sasaran kritik fans sendiri ketika tim menelan kekalahan atau bermain buruk.

Sejauh ini sudah banyak tim yang dikaitkan dengan kepindahan San Iker, namun informasi terbaru menyebutkan bahwa AS Roma juga tertarik akan servisnya. Nah, terkait hal ini, Iker Casillas mengaku tersanjung dengan ketertarikan AS Roma.

“Mereka adalah tim yang hebat, dan kami merasa tersanjung akan ketertarikan yang mereka tunjukkan. Bagaimana bisa? Karena AS Roma adalah salah satu klub terbaik di Eropa, kami menyukai kota mereka dan semangat yang ditunjukkan oleh para tifosinya” Ujar Casillas kepada media setempat.

Cesare Prandelli Curhat Soal Pemecatannya di Timnas Italia

Cesare Prandelli Curhat Soal Pemecatannya di Timnas Italia

Karena merasa dikecewakan FIGC, Prandelli memutuskan untuk tidak lagi saksikan pertandingan-pertandingan yang diikuti oleh Tim Nasional Italia dalam turnamen apapun.

Selepas perhelatan akbar Piala Dunia tahun 2014 lalu, Cesare Prandelli resmi dilengserkan dari kursi pelatih, alasannya sangat jelas, karena Tim Nasional Italia tak mampu melangkah jauh dalam turnamen tersebut, jangankan melangkah jauh, Gli Azzuri yang bermaterikan pemain-pemain bintang nan berpengalaman justru tersingkir saat babak penyisihan Group. Tak lama kemudian, FIGC selaku federasi Sepakbola Italia langsung menunjuk Antonio Conte untuk mengisi kekosongan di kursi pelatih.

Nah, terkait pemecatan itu, Prandelli angkat bicara soal kisah dan perasaannya setelah diberhentikan dari jabatan sebagai pelatih Tim Nasional Italia. Hal itu juga yang membuatnya berhenti menyaksikan pertandingan-pertandingan Gli Azzuri sampai sekarang dan memutuskan untuk istirahat dari dunia kepelatihan yang telah dia geluti selama 25 tahun.

“Memang benar (Kalau saya sudah tak lagi mengikuti perkembangan Tim Nasional Italia). Kami telah melalui tahun-tahun yang luar biasa, kemudian hanya satu pertandingan saja yang membuat semuanya hancur. Ini seperti luka yang terbuka dan akan selalu seperti itu”

“Saya memulai karir di dunia kepelatihan sejak tahun 1990 silam, saya telah bekerja non-stop selama 25 tahun dan sekarang saya putuskan untuk istirahat, memang rasanya seperti sensasi yang aneh” Ujar Prandelli kepada Radio Due.

Musim lalu, Prandelli smepat tangani Galatasaray, namun sosok pelatih berusia 57 tahun itu kemudian dipecat.

Allegri Bantah Memiliki Hubungan Buruk dengan Andrea Pirlo

Allegri Bantah Memiliki Hubungan Buruk dengan Andrea Pirlo

Kepergian Pirlo bukan didasari oleh keretakan hubungan antara sang pemain dengan Allegri, tapi karena kesulitan beradaptasi dengan skuat baru usai Milan ditinggal sejumlah pemain bintang mereka.

Sebagaimana diketahui, Andera Pirlo telah resmi meninggalkan Juventus pada musim panas ini dan bergabung dengan salah satu klub Major League Soccer, New York City FC. Kepergian sang pemain disinyalir karena keretakkan hubungannya dengan pelatih Bianconneri saat ini, Massimiliano Allegri, dimana kurang harmonisya hubungan antara kedua sosok tersebut dipercaya sudah terjadi ketika keduanya masih bekerja sama di AC Milan. Namun, kabar ini langsung dibantah Allegri, bahkan saat masih bekerja sebagai pelatih Milan, Max mengaku tak memiliki masalah sama sekali dengan pirlo.

Proses kepergian Pirlo secara gratis menuju Juventus adalah karena sang pemain kesulitan beradaptasi dengan skuat anyar Rossoneri ketika itu yang telah ditinggalkan sejumlah bintangnya.

“Saya tidak pernah mempunyai argumen apapun dengan Pirlo, kepindahannya menuju Juventus adalah proses revitalisasi dirinya secara psikologis, dan perubahan bisa menjadi kataris. Musim itu adalah musim ketiga saya di bench AC Milan, dan ketika itu klub tak lagi memiliki sosok-sosok bintang berpengalaman seperti Alessandro Nesta, Gennaro Gattuso, Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva. Tentu saja menjadi kesuilitan tersendiri bagi Pirlo untuk bermain dengan baik di skuat baru klub saat itu” Ujar Allegri seperti dilansir La Repubblica.

Kedua sosok ini akhirnya kembali bekerja sama di Juventus, saat Allegri ditunjuk Bianconneri untuk gantikan peran Antonio Conte mulai tahun 2014 lalu.